Posts

Showing posts with the label Cerpen

Terbang

Seekor burung kecil berusaha untuk terbang. Bersama asap teh pagiku, aku melihatnya bahkan terlalu hijau untuk terbang sekarang. Ia terjatuh dan terjatuh, namun perlahan-lahan ia kembali bangkit, dan berusaha untuk terbang lagi. Entah apa yang dipikirkannya. Siulan-siulan burung di sekelilingnya mencemoohnya, mengejeknya. Namun, suara merdu pujian dan ucapan semangat juga terdengar diantara paduan suara itu.   Kusesap lagi tehku, sambil terbayang-bayang kehidupan baru yang kujalani ini. Sungguh sibuk, sungguh melelahkan. Namun di dalamnya, aku terus berusaha tersenyum, meski itu sangat berat. Aku tak ingin siapapun tahu sisi gelap diriku, dan duniaku; kesedihanku, ketakutanku, sifat burukku, sifat anehku, masa laluku dan hidupku. Semua itu menyedihkan dan menggelikan secara bersamaan. Dan aku menyimpannya dalam hatiku rapat-rapat. Tak ingin siapapun mengetahuinya. Tak seorangpun.   Sambil mengamati burung payah itu dalam diam, hatiku bergumam "Antoine Saint d'Exupery p...

Sepatu Fantasi Lili

Suatu waktu, saat aku masih kecil, aku pernah membuat sebuah cerpen anak dan mencoba mengirimnya ke Koran Kompas untuk dimuat pada rubrik anak yang ada setiap Minggu, sayangnya, beberapa bulan kemudian aku menerima naskahku kembali, yang berarti cerpenku ini ditolak untuk diterbitkan. Saat itu aku sangat sedih dan melupakan cerita buatanku ini. 7 tahun kemudian, tepatnya saat ini, aku menemukan kembali kisah ini dan memutuskan untuk mengabadikannya dalam blog ini. Selamat membaca, semoga kalian menikmati!   Lili sedang asyik melukis bersama teman sebayanya, dengan cat yang beragam warnanya, Lili melukis seorang putri cantik dengan sepatunya yang indah di atas kertas. Di sebelahnya ada Mira yang melukis kelinci lucu, Tyo yang hanya menyapu cat dengan asal, dan banyak lagi teman nya dengan berbagai macam lukisan. Sambil melukis, mereka bersenda gurau. “Akhirnya, selesai juga lukisanku” , gumam Lili . “ H ufft, haus nih... minum dulu ah” , lanjutnya. Maka, Lili pun berja...

Hujan Hari Rabu

 Ada yang berbeda pada penghujan malam rabu, derasnya bagaikan suara tangisan pilu. Mungkin langit sedang menangisi saya dan anda, yang kini sudah tak lagi menjadi kita. Sebab walau ucapku hanya terpatri pada kata-kata hampa belaka, cintamu telah kaupahat dengan mantap pada setiap batu penjuru. Dan engkau berlaku seolah tak mau tahu, berjalan bahkan berlari, membabi buta, layaknya ingin mengenggam pasir gurun sahara, atau menampung lautan dalam mangkuk kaca. Hamba telah tunakrama dan adharma walau diam seribu kata, dan engkau hanya tertawa, berjalan dan berlalu dalam cedera.   Seandainya kapal ini terus kita paksakan maju Di tengah badai apakah ia masih tetap laju? Mengarung menerjang, namun perlahan binasa, Menggenang tenggelam lalu tiada.   Jogja, 22.02.21

Pria Tanpa Wajah

Hanya bersua di layar cahaya tanpa pernah betul mengenal siapa dia, aku tak pernah tahu betul rupanya; hanya suara kepalanya yang tertuang dalam deretan huruf yang berjejer rapi. Jika aku boleh menebak seperti apa warna suaranya, aku berpikir itu bagaikan warna biru pastel. Aku tak pernah tahu apa hubungannya atau maksud dari itu, tapi entah mengapa, pikiranku berkata demikian. Aku pun tak pernah mengenal asal mula dirinya; hanya sepotong dua keping mengenai dirinya. Satu hal yang aku ketahui, adalah ia hidup di belahan dunia lain, dimana mataharinya baru sepenggalah tingginya ketika mentariku telah terik. Yang sangat aku ketahui pula, adalah betapa kagumnya aku sejak hari pertama aku mengenalnya. Berkenalan dengannya bukanlah hal yang istimewa, kami hanyalah orang asing bagi satu sama lain. Bagiku ia tampak seperti orang yang tak banyak berkata-kata. Ia juga bukanlah orang mudah kusukai dalam selayang pandang; ucapan ketusnya pada awal perkenalan kami sempat menyinggung egoku. “Angk...

Letter to R

Image
 Hey R, How are you doing right now? Wherever you are, I hope you are doing just fine. Dear R, many things had happened after you've gone. From nobody to somebody, enemies become friends, friends become strangers. Many people we never expected comes to my life and changes me. Some of them knew you so well, since you were close to each other. I don't know how things going on between you guys. I wouldn't care. Couldn't say new life is better. But it changes, for sure. It's neither bad nor good. I suppose it's a neutral change. Got a job after graduate. The thing I avoided the most become a source to gather some money for whatever-thing-I-should-face in the future. I miss studying. Things were lot simpler that way. I don't have to be responsible toward anybody. I don't owe them anything. You were right. Responsibility is hard to take and running away from it is a lot easier. Maybe that's why you ran away from me and didn't try to give me any sign. B...

Nenek di Teras

Image
Puan bertubuh kecil itu duduk di kursi bambu di teras rumahnya. Setiap hari kebayanya semakin terasa besar, sebab tubuhnya yang semakin rapuh. Matanya sayu. Kepalanya kini telah dipenuhi dengan uban. Kaki ringkihnya perlahan membawanya menuju kursi bambu yang selalu menemani hari-harinya yang kini sepi. Suaminya telah lama tiada; anak-anaknya entah kini ada dimana. Seorang gadis muda melewati teras rumah nenek itu hampir setiap hari; melewati jalan semen gersang yang semakin gompal. Istana kecil berhias aksara jawa itu menghadirkan rasa penasaran yang teramat dalam hati gadis, membuatnya sulit untuk mengabaikan keberadaan rumah di timur jalan nan kecil itu. Semua hal tentang rumah itu mungil adanya: pagar mungil, atap mungil, pekarangan mungil, teras mungil, kursi mungil, kamar mungil. Ia ragu akan adanya keberadaan peradaban dalam rumah itu. Tak pernah sekalipun ia mendengar suara radio atau televisi dari griya itu. Melewati rumah itu, seakan ada portal waktu yang melemparnya ke ma...

Musim Semi Negeri Kemarau

Bunga-bunga mulai bermekaran Spring, The new beginning. Aku tersenyum. Tanpa gentar kulangkahkan kakiku kembali menuju tempat itu. Tempat penuh kenangan itu. Ingatanku memang terkadang melayang pada masa itu. Masa-masa manis tak terlupakan. Tapi aku takkan menghindarinya, aku akan menghadapinya dan aku tak ingin ketakutan lagi jika harus bertemu dengan sang memori. Dengan kebahagiaan itu, dimulailah masa baruku dan waktu mulai berjalan maju kembali... Diese Geschichte hat für meine beste freunden gewidmet ,die mir in meiner schwerer Zeit hilft... CS. Yogyakarta, 5.7.17

Home

Mama, apa kabarmu? Aku di sini. Baik-baik saja. Baik sedih, senang, pun merindu tak kurasa. Seakan hatiku mati. Namun, ingatan akan sebuah hari yang sangat berkesan mengusik hatiku. Sebuah ingatan yang membuatku ingin bercerita kepadamu. Beberapa hari silam, aku diundang ke rumah kawanku. Tak kusangka rumahnya begitu megah dan indah melebihi ekspektasiku. Begitu besar, hingga aku mungkin dapat tersesat dalam labirinnya. Begitu besar hingga dapat menampung seluruh penduduk dari kota yang terpencil ini. Tamannya yang seluas dua puluh lapangan bola, diisi dengan berbagai macam tumbuhan dan sungai-sungai serta danau buatan. Aku iri. Sangat iri. Betapa aku ingin memiliki rumah seperti ini. Namun, pagar rumah itu begitu tinggi hingga nyaris mencakari langit. Berpuluh-puluh penjaga tersebar di setiap sudutnya. Mengawasi semua. Menjaga. Meski dia bukanlah orang penting di negeri ini. Meski dia bukanlah siapa-siapa. Mengapa dia membutuhkan semua ini? Apakah dia melihat bayangan kem...

Burung Gagak Baik Yang Malang

Baru    satu minggu ini, Gaga si gagak tinggal di rumah barunya, ia pindah ke luar kota, Gaga yang dulu tinggal di Hutan Salemba, pindah ke Hutan Hujan. Sebenarnya, Gaga tidak betah tinggal di rumahnya, pasalnya, ia belum punya kawan, suatu hari ia terbang, untuk mencari teman. Tiba – tiba ada yang berteriak, ”lari! Selamatkan diri! Ada burung peliharaan nenek sihir! Nanti disihir lho !” mendengar itu Gaga langsung menjawab “Tunggu, aku ingin berteman dengan kalian, aku bukan burung peliharaan nenek sihir kok!” tetapi, tak ada yang mendengarnya, malah, mereka semua terbang menjauh. Hanya Robin si burung pipit yang berani menjawab “Bohong! Kamu pasti burung peliharaan nenek sihir! Kamu juga tak mungkin kesepian, kamu punya banyak teman di tempat tinggal nenek sihir jahat itu! Pergi! jauhi kami!” akhirnya dengan sedih Gaga pulang ke rumah. Dirumah, ibu Gaga melihat Gaga sedang murung, ia mengunci diri dikamar, dengan lembut ibu berkata “Nak, ada apa? apa ibu boleh masuk?” la...