Posts

Showing posts with the label Sastra

Terbang

Seekor burung kecil berusaha untuk terbang. Bersama asap teh pagiku, aku melihatnya bahkan terlalu hijau untuk terbang sekarang. Ia terjatuh dan terjatuh, namun perlahan-lahan ia kembali bangkit, dan berusaha untuk terbang lagi. Entah apa yang dipikirkannya. Siulan-siulan burung di sekelilingnya mencemoohnya, mengejeknya. Namun, suara merdu pujian dan ucapan semangat juga terdengar diantara paduan suara itu.   Kusesap lagi tehku, sambil terbayang-bayang kehidupan baru yang kujalani ini. Sungguh sibuk, sungguh melelahkan. Namun di dalamnya, aku terus berusaha tersenyum, meski itu sangat berat. Aku tak ingin siapapun tahu sisi gelap diriku, dan duniaku; kesedihanku, ketakutanku, sifat burukku, sifat anehku, masa laluku dan hidupku. Semua itu menyedihkan dan menggelikan secara bersamaan. Dan aku menyimpannya dalam hatiku rapat-rapat. Tak ingin siapapun mengetahuinya. Tak seorangpun.   Sambil mengamati burung payah itu dalam diam, hatiku bergumam "Antoine Saint d'Exupery p...

Antologi Kisah Patah Hati: Kepingan 1 - "Pamit"

Yogyakarta, 23. 8. 19 Aku pamit ya? Ternyata aku bukan perempuan yang tepat untukmu. Aku tak dapat memahamimu, tak cukup sabar menghadapimu dan tak bisa membantumu tatkala kau sedang depresi. Kau juga tak lagi bisa mempercayakan cerita apapun padaku, setiap topik yang akan kita bicarakan rasanya tidak pernah menemui titik temu. Aku bukanlah orang yang membuatmu ingin berubah dan menghargai ataupun memperjuangkan hubungan ini. Meskipun kita sama-sama lelah, nyatanya kita juga enggan saling mempertahankan hubungan ini. Lagipula, siapa yang mau punya hubungan serumit ini? Kata semua orang, dalam sebuah hubungan, komunikasi adalah kunci dari hubungan yang baik. Namun ketika kau menghilang, kau seolah merasa tak ada pentingnya untuk menghubungiku. Kau tak mencariku sedikitpun, seperti aku tidak pernah ada. Jika aku mengirimmu pesan, kau tak pernah membacanya. Dan ketika aku menghilang, kau tak peduli. Kau tak menunggu pesan dariku, tak seperti aku yang selalu gelisah menunggu kabar darimu. ...

Sepatu Fantasi Lili

Suatu waktu, saat aku masih kecil, aku pernah membuat sebuah cerpen anak dan mencoba mengirimnya ke Koran Kompas untuk dimuat pada rubrik anak yang ada setiap Minggu, sayangnya, beberapa bulan kemudian aku menerima naskahku kembali, yang berarti cerpenku ini ditolak untuk diterbitkan. Saat itu aku sangat sedih dan melupakan cerita buatanku ini. 7 tahun kemudian, tepatnya saat ini, aku menemukan kembali kisah ini dan memutuskan untuk mengabadikannya dalam blog ini. Selamat membaca, semoga kalian menikmati!   Lili sedang asyik melukis bersama teman sebayanya, dengan cat yang beragam warnanya, Lili melukis seorang putri cantik dengan sepatunya yang indah di atas kertas. Di sebelahnya ada Mira yang melukis kelinci lucu, Tyo yang hanya menyapu cat dengan asal, dan banyak lagi teman nya dengan berbagai macam lukisan. Sambil melukis, mereka bersenda gurau. “Akhirnya, selesai juga lukisanku” , gumam Lili . “ H ufft, haus nih... minum dulu ah” , lanjutnya. Maka, Lili pun berja...

To All The Friends I'll Always Love

Years from now, I probably not gonna be the bridesmaid on ur wedding day, or maybe I will never get the memo. All what's left from me is only my ghost and our memories. So I never try to take everything personally anymore, even if you're my best friend. You are indeed my best friend, for now, but we don't know what the future holds; there could be a storm, ravaging us into void. So I'll cherish you and this moment. I'll pray for God for it to last and grow forever, but I won't expect anything, since expectations are root of heartache, Shakespeare said. And if someday you suddenly gone and then you show up from nowhere out of the blue, needing my help, I will do it with no second thought, with no hard feelings, because I know I'll appreciate the moments God has given to me, even if it's just you remembering me in your downs and not your ups. Isn't friend in need is a friend indeed? How can we come this far without having that kind of symbiosis? CS, 15...

Hujan Hari Rabu

 Ada yang berbeda pada penghujan malam rabu, derasnya bagaikan suara tangisan pilu. Mungkin langit sedang menangisi saya dan anda, yang kini sudah tak lagi menjadi kita. Sebab walau ucapku hanya terpatri pada kata-kata hampa belaka, cintamu telah kaupahat dengan mantap pada setiap batu penjuru. Dan engkau berlaku seolah tak mau tahu, berjalan bahkan berlari, membabi buta, layaknya ingin mengenggam pasir gurun sahara, atau menampung lautan dalam mangkuk kaca. Hamba telah tunakrama dan adharma walau diam seribu kata, dan engkau hanya tertawa, berjalan dan berlalu dalam cedera.   Seandainya kapal ini terus kita paksakan maju Di tengah badai apakah ia masih tetap laju? Mengarung menerjang, namun perlahan binasa, Menggenang tenggelam lalu tiada.   Jogja, 22.02.21

Pria Tanpa Wajah

Hanya bersua di layar cahaya tanpa pernah betul mengenal siapa dia, aku tak pernah tahu betul rupanya; hanya suara kepalanya yang tertuang dalam deretan huruf yang berjejer rapi. Jika aku boleh menebak seperti apa warna suaranya, aku berpikir itu bagaikan warna biru pastel. Aku tak pernah tahu apa hubungannya atau maksud dari itu, tapi entah mengapa, pikiranku berkata demikian. Aku pun tak pernah mengenal asal mula dirinya; hanya sepotong dua keping mengenai dirinya. Satu hal yang aku ketahui, adalah ia hidup di belahan dunia lain, dimana mataharinya baru sepenggalah tingginya ketika mentariku telah terik. Yang sangat aku ketahui pula, adalah betapa kagumnya aku sejak hari pertama aku mengenalnya. Berkenalan dengannya bukanlah hal yang istimewa, kami hanyalah orang asing bagi satu sama lain. Bagiku ia tampak seperti orang yang tak banyak berkata-kata. Ia juga bukanlah orang mudah kusukai dalam selayang pandang; ucapan ketusnya pada awal perkenalan kami sempat menyinggung egoku. “Angk...

Days After You Die

Image
Those old photos start to losing its colours Your picture and name on your favorite mug fades away because it has been washed too often now. Your favorite sweaters are being given away, your clothes are nowhere to be found. Those shoes also start to mold. And your cold bed is now so rusty and dusty. One by one people who remember your name and story will eventually die. Your trace in every place became nonexistant and indifferent. Your posessions become nothing but trash. Our chat on every social media become a memory, Which I read every time I miss us Human is no bigger than a stardust in the middle of the universe; Their life is so fragile like the fire on a candle. Just one blow and its light could be no more. Jogja, 09.01.2021

The Scream of the Silence

Image
 She's not feeling okay and she don't know why tried to ask the sea and sky but they just run away and fly and for that, she'll cry yet her tears are dry no matter how hard she tries so then she endeavors to look happy  yet her laugh is wry And still, no one can identify, Sadness in her eye She better not defy that maybe she better die on the summer of July and no one shall comply Finally could she eventually cry Jogja, 05.01.2021

Bittertruth

Image
We talk, we speak and we feel that we can click but the bitter truth has kicked; it's not the only thing I seek I'm sorry cause I decided things too quick when I was happy and feel like on peak but then things turn out to be freak and it feels like I've played tricks all these things may make you sick cause I've made you feel like only a side gig from now on you can call me a prick and others may call me weak for I am giving up too quick Jogja, 05.01.2021

Letter to R

Image
 Hey R, How are you doing right now? Wherever you are, I hope you are doing just fine. Dear R, many things had happened after you've gone. From nobody to somebody, enemies become friends, friends become strangers. Many people we never expected comes to my life and changes me. Some of them knew you so well, since you were close to each other. I don't know how things going on between you guys. I wouldn't care. Couldn't say new life is better. But it changes, for sure. It's neither bad nor good. I suppose it's a neutral change. Got a job after graduate. The thing I avoided the most become a source to gather some money for whatever-thing-I-should-face in the future. I miss studying. Things were lot simpler that way. I don't have to be responsible toward anybody. I don't owe them anything. You were right. Responsibility is hard to take and running away from it is a lot easier. Maybe that's why you ran away from me and didn't try to give me any sign. B...

Nenek di Teras

Image
Puan bertubuh kecil itu duduk di kursi bambu di teras rumahnya. Setiap hari kebayanya semakin terasa besar, sebab tubuhnya yang semakin rapuh. Matanya sayu. Kepalanya kini telah dipenuhi dengan uban. Kaki ringkihnya perlahan membawanya menuju kursi bambu yang selalu menemani hari-harinya yang kini sepi. Suaminya telah lama tiada; anak-anaknya entah kini ada dimana. Seorang gadis muda melewati teras rumah nenek itu hampir setiap hari; melewati jalan semen gersang yang semakin gompal. Istana kecil berhias aksara jawa itu menghadirkan rasa penasaran yang teramat dalam hati gadis, membuatnya sulit untuk mengabaikan keberadaan rumah di timur jalan nan kecil itu. Semua hal tentang rumah itu mungil adanya: pagar mungil, atap mungil, pekarangan mungil, teras mungil, kursi mungil, kamar mungil. Ia ragu akan adanya keberadaan peradaban dalam rumah itu. Tak pernah sekalipun ia mendengar suara radio atau televisi dari griya itu. Melewati rumah itu, seakan ada portal waktu yang melemparnya ke ma...

Home

Mama, apa kabarmu? Aku di sini. Baik-baik saja. Baik sedih, senang, pun merindu tak kurasa. Seakan hatiku mati. Namun, ingatan akan sebuah hari yang sangat berkesan mengusik hatiku. Sebuah ingatan yang membuatku ingin bercerita kepadamu. Beberapa hari silam, aku diundang ke rumah kawanku. Tak kusangka rumahnya begitu megah dan indah melebihi ekspektasiku. Begitu besar, hingga aku mungkin dapat tersesat dalam labirinnya. Begitu besar hingga dapat menampung seluruh penduduk dari kota yang terpencil ini. Tamannya yang seluas dua puluh lapangan bola, diisi dengan berbagai macam tumbuhan dan sungai-sungai serta danau buatan. Aku iri. Sangat iri. Betapa aku ingin memiliki rumah seperti ini. Namun, pagar rumah itu begitu tinggi hingga nyaris mencakari langit. Berpuluh-puluh penjaga tersebar di setiap sudutnya. Mengawasi semua. Menjaga. Meski dia bukanlah orang penting di negeri ini. Meski dia bukanlah siapa-siapa. Mengapa dia membutuhkan semua ini? Apakah dia melihat bayangan kem...

Rindu

Rindu ini mengalir deras, Bagai sungai, ia menghanyutkanku jauh tanpa henti. Rindu ini dingin, Bagai bada salju ia menyiksaku tanpa nurani. Rindu ini bagaikan hujan, Yang turun tanpa ampun dan menghujamku tanpa permisi. Rindu ini gelap, Bagai malam ia menyelimutiku dalam hitam yang sunyi. Rindu ini sunyi, Yang meninggalkanku dalam sepi dan sendiri. Oh rindu, Kau sungguh mengganggu Kau membuatku merana setiap waktu Pergilah! Pinta hatiku selalu. Namun hati kecilku mengaku, Dalam gejolak hidupku, Ketika dunia melawanku, Aku masih merindu. . . . Yogyakarta, 4 Oktober 2016 C.S

Gadis Dari Sore Tadi

Gadis itu memandangi kebun rumahnya yang diguyur hujan sedari sore tadi. Pandangannya jauh melayang, kosong dan hampa. Tak ada apa-apa yang dapat ditemukannya dari hujan yang turun sedari sore tadi. Hanya kelam, duka, sunyi, dan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia hanya terdiam, menikmati bagaimana kehampaan dapat membuatnya menemukan menggoreskan kata-kata yang tertuang di atas kertas dan sambil bertanya pada diri sendiri, bagaimana kungkungan itu dapat membuatnya merasakan kebahagiaan abadi? Sekian lama gadis itu terkunci di dalamnya, dan kini ia mengetahui bahwa dunianya hanyalah secuil kecil bagian dari semesta yang besar. Dan dunianya itu penuh dengan kesalahan. Apapun yang dilakukan, kemanapun ia pergi, dengan siapapun ia berada, selalu salah. Bahkan bernafaspun rasanya sudah salah. Jikalau memang ia tak diinginkan di dunia ini, mengapa gadis itu hidup? Mengapa ia tidak mati saja sedari dulu? Mengapa Tuhan tak berkata saja apa keinginannya menciptakannya disini? Daripada me...

Dear You

Dear you, kamu yang suatu malam berkata aku cinta kamu, dan di suatu pagi aku menolakmu. Bukan aku membencimu. Dear you, aku memang menolakmu, namun aku takut kehilanganmu. Aku menolakmu bukan karena keinginanku. Dear you, kamu yang berkata akan menungguku, dan diam diam aku bangga atas kegigihanmu. Apa kau akan benar benar menungguku? Dear you, kamu terkadang menyebalkanku, namun diam diam, aku mulai rindu perhatianmu yang kini mulai pudar. Apa kau mulai bosan menungguku? Dear you, aku yakin waktu dan jarak bisa menyatukan kita, namun kini yang bisa kita lakukan hanyalah menungguku, namun apa kau sanggup? Dear you, percayalah sesuatu yang hebat dan terbaik akan datang bagi orang yang bersabar. Sesuatu dapat menjadi istimewa, indah nan berharga karena kamu merasakan betapa beratnya berjuang untuk sesuatu itu. Jadi, bersabarlah sedikit lagi, karena akupun rela menunggumu. Dear you, untuk kamu yang mulai lelah menungguku, apabila kamu memang tak sanggup lagi, apabila kamu ju...

Barangkali

Barangkali kau muncul disaat dan tempat yang tak tepat. Barangkali saja waktu itu kamu tidak memikat hatiku karena aku masih berada dalam kelam. Atau barangkali kau hanya tertarik padaku, bukan menyayangiku. Brangkali kau salah menilai perasaanmu, barangkali saja aku tak peduli namun sesungguhnya aku bingung bagaimana perasaanku. Namun barangkali kau sangat gigih menungguku, atau barangkali kau pergi meninggalkanku dan melupakanku, sama seperti masa laluku. Barangkali kau terlihat jauh, barangkali kau marah, barangkali kau tak peduli lagi. Barakgkali kita menerka pikiran satu sama lain, barangkali kita yakin kita merasakannya, namun tak mampu mengucapkannya. Barangkali perasaanku berubah, barangkali aku berpikir tentangmu, barangkali aku mulai menyukaimu. Barangkali malam ini aku berpikir tentangmu, dan barangkali aku berkata: Barangkali aku merindukanmu CS

Burung Gagak Baik Yang Malang

Baru    satu minggu ini, Gaga si gagak tinggal di rumah barunya, ia pindah ke luar kota, Gaga yang dulu tinggal di Hutan Salemba, pindah ke Hutan Hujan. Sebenarnya, Gaga tidak betah tinggal di rumahnya, pasalnya, ia belum punya kawan, suatu hari ia terbang, untuk mencari teman. Tiba – tiba ada yang berteriak, ”lari! Selamatkan diri! Ada burung peliharaan nenek sihir! Nanti disihir lho !” mendengar itu Gaga langsung menjawab “Tunggu, aku ingin berteman dengan kalian, aku bukan burung peliharaan nenek sihir kok!” tetapi, tak ada yang mendengarnya, malah, mereka semua terbang menjauh. Hanya Robin si burung pipit yang berani menjawab “Bohong! Kamu pasti burung peliharaan nenek sihir! Kamu juga tak mungkin kesepian, kamu punya banyak teman di tempat tinggal nenek sihir jahat itu! Pergi! jauhi kami!” akhirnya dengan sedih Gaga pulang ke rumah. Dirumah, ibu Gaga melihat Gaga sedang murung, ia mengunci diri dikamar, dengan lembut ibu berkata “Nak, ada apa? apa ibu boleh masuk?” la...

Lala Si Periang Dan Toto Si Membosankan

Lala adalah anak yang periang. Ia bertetangga dengan Toto, yang selalu saja membosankan. Suatu hari, Lala mengajak Toto bermain monopoli, “malas ah”, jawab Toto. “Kalau begitu kita main pencari jejak di tamanku yuk”, ajak Lala. “Di luar panas, permainan itu juga pasti melelahkan”, jawab Toto lagi. “Hmm, kalau begitu ayo main TTS di rumahku, pasti asik dan menambah ilmu”, ajak Lala lagi “sulit ah, di sekolah saja aku sudah capai dan bosaaaaan sekali”, jawabToto dengan sebal. “Otakmu itu tumpul, pantas saja kau tak punya teman, kalau saja kau sedikit tersenyum, tak mudah lelah, mudah tertawa dan terbuka, pasti kau punya banyak teman” ucap Lala. “Tidak, hanya saja aku tidak semujur kau, kalau saja aku semujur kau, pasti aku punya banyak teman”, sangkal Toto. Lala pun menjadi kasihan. Ia lalu megajak Toto pergi piknik bersamanya, ia diajak pergi oleh teman sekelasnya, yang juga teman Toto. Hari yang ditunggu itupun tiba, mereka piknik ke sebuah taman kota, d...