Posts

Showing posts with the label Refleksi

Sesuatu di Maluku

Image
There’s a lyric that goes, "How can I move on, when I’m still in love with you?" Begitulah rasanya hari-hari ini, berusaha berdamai dengan kenyataan bahwa aku sudah hampir enam purnama pulang dari Maluku dan memulai kisah di tempat baru. Mencoba meredam rindu, tapi bagaimana mungkin, ketika akhir-akhir ini begitu banyak hal tentang Indonesia Timur justru viral? Aku kembali tersadar: setahun keberadaanku di sana mungkin tak banyak mengubah dunia, tapi dunia itu telah mengubahku. Menjadi Pengajar Muda bukan sekadar mengajar, tapi sebuah perjalanan yang membentuk hati. Dikirim ke Maluku, aku belajar hidup berdampingan dengan orang-orangnya, merasakan suka dan dukanya, menyaksikan privilese sekaligus kesenjangannya. Ya, mungkin memang itulah tujuan utama Indonesia Mengajar: menggerakkan hati para Pengajar Mudanya. Dan itu berhasil, setidaknya untukku. Rasa memiliki itu tumbuh begitu saja. Setahun di sana, aku belajar segala kompleksitas masyarakat dan politiknya, dan memaklumin...

Raya kala

sudah hampir tiga windu usia, bukan lagi belia, raya jadi sepi, sepi makin raya, apakah ini tanda menyenja? merayakan sepi menumbuhkan tanya "bagaimana jiwa dan hati? bahagia atau setengah gila?" "sudahkah ada cinta dan damai, serta jawab dari segala tanya?" nyatanya kadang perih juga silih pada malam malam yang putih nyatanya kadang datang kecewa ketakutan untuk mendewasa memakna kala tiga belas kedua tiga menjadi manusia berbeda yang lebih baik dari sebelumnya

Adopsi

Beberapa waktu lalu, aku mendengar suara tangisan kucing kecil di dekat rumahku. Pada awalnya, kupikir bahwa itu adalah anak kucing yang baru lahir dan merengek lapar, menanti ibunya untuk memberi makan. Suara kucing tersebut tak berhenti, apalagi saat malam. Ibuku mengeluh, sebab ia sulit tidur. Keesokkan harinya, aku mencari sumber suara. Rupanya memang mereka berada sangat dekat dari rumahku, pantas saja suaranya sangat nyaring. Namun, aku dilarang untuk mendekati mereka. Apalagi, mereka berada di halaman rumah orang, menambah rasa sungkan untuk memastikan keadaan mereka. Lagipula, mungkin saja sebenarnya mereka dipelihara bukan? Tapi ibuku menyanggah dan berkata, sepertinya mereka ditelantarkan, sebab jika dipelihara, mengapa kucing-kucing yang masih lemah itu dibiarkan di luar bahkan saat malam datang? Tangisan itu tak kunjung berhenti. Hatiku semakin tergelitik untuk mengecek keadaan mereka. Aku membulatkan tekad dan berjalan ke ember hitam tempat mereka diletakkan. Dan lihatla...

Selamat

*Suatu pagi, di sebuah ruang chat* Y: Aku cape ultah wkwkwwkk Q: Kok capek ultah Q: Aku kesepian, jd caper suka diperhatiin jd banyak yg ngucapin Y: Ywd. SELAMAT ULANG TAHUN YAAAA Q: Wkwkwk. SELAMAT ULANG TAHUN JUGA ADEK ku sayaanngg Q: Gw suka diperhatiin soalnya, melas bgt aku wkwk :( Y: Oh tidak, itu sangat natural Y: Semua orang butuh diperhatikan, cuma kadang masalahnya, siapa? Ada atau engga? Org yg kita harapkan memberikan perhatian atau bukan? . Sama halnya seperti semua orang juga senang diberikan selamat, layaknya hari ini dan segala ingar bingar perayaannya. Hanya saja, ikhlaskah atau tidak? Niatkah, atau hanya sekadar formalitas saja? Kalau kata simbah Sujiwo Tejo: "Di jalur pribadi aku nggak membalas broadcast Maaf Lahir Batin. Hanya kubalas Maaf Lahir Batin yg personal, yg nyebut nama tertuju, yg orangnya mau sedikit capek nulis nama tertuju, YANG ADA TOUCH." Atau kata I Made Andi Arsana: "Kenapa kita kadang merasa perlu menyampaikan ucapan suka maupun duka...

Thank You Note

Terima kasih untuk orang-orang yang masih mengingat dan sudah menyempatkan untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya. Semua itu sangat berarti bagi saya. Terima kasih atas perhatiannya dan terima kasih, karena kalian telah meluangkan sebagian memori anda untuk mengingat saya. Saya memohon maaf atas kesalahan yang telah saya lakukan di masa lalu. Saya juga hendak memohon maaf untuk segala hal-hal baik yang telah saya terima dari kalian dan belum pernah bisa mengembalasnya dengan pantas. Kiranya usia yang baru membawa saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Akhirnya, usia baru dan, tantangan baru menanti. Satu tahun lagi untuk saling berproses bersama sebagai kawan dan sahabat. Kiranya kita dilimpahi dengan rezeki, dan kiranya kita diberikanNya rezeki untuk dapat selalu menjaga hubungan yang baik ini. Salam sayang, Clara

World Dance Day

Image
  Tanggal 29 April diperingati sebagai Hari Tari Sedunia, dan beberapa tahun yang lalu aku sempat ikut meramaikan hari ini dengan menari dalam acara World Dance Day yang diadakan di ISI Surakarta, bersama dengan teman-teman dari Nalitari . Menari sudah menjadi hal penting dalam hidupku. Sejak kecil aku telah diperkenalkan dengan tari ballet, walau hanya sebentar. Saat SD, aku hanya menari sesekali saat jam seni. Namun minatku terhadap tari kembali muncul saat aku homeschooling; pada masa ini aku banyak mengambil kesempatan untuk belajar menari, mulai dari tari kontemporer bersama dengan DanceAbility, hingga mengapresiasi budaya sendiri dengan belajar tari Bali di sanggar Saraswati, atau belajar tari piring di rumah. Mengenali beberapa tarian membuatku memahami cara-cara menari. Tari tradisional memiliki pakem dan aturan yang harus diikuti, dengan segala gerakan dan nafas yang diperhitungkan. Sedangkan tari kontemporer memberikan kita ruang untuk mengekspresikan diri, baik emosi pos...

Facta, Non Verba!

Seorang sopir bus di Amerika bertugas untuk mengantar anak-anak berkulit putih dan hitam ke sekolah. Setiap hari, mereka selalu berebut siapa yang bisa duduk di bangku paling depan. Suatu hari, sang sopir lelah dengan pertengkaran yang tidak ada habisnya ini. Sehingga, saat anak-anak itu masuk ke dalam bus dan mulai berebut tempat duduk, sang sopir berseru " tidak ada kulit hitam atau putih. Hanya ada kulit biru! " Sesaat, mereka terdiam. Seisi bus menjadi hening. Lalu tiba-tiba, seorang anak dari kelompok kulit putih berseru. " oke, kalau begitu, yang berkulit biru muda duduk di depan dan yang biru tua duduk di belakang! ". Dan seketika, seisi bus menjadi riuh kembali. Pada akhirnya gertakan tersebut tidak membuat kondisi ini berubah. Sama seperti apa yang kita alami saat ini. Himbauan, pengumuman, dekrit ataupun sosialisasi, baik itu bersifat lisan maupun tulisan, pada akhirnya tidak berperan banyak untuk mengubah kebiasaan orang yang mendarah daging. Seba...

2020: Hello new adventure!

Hai semua! Setelah sekian lama tidak mengisi blog ini, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk menulis lagi. Aku berharap, semoga di tahun ini aku dapat mengisi laman ini dengan beragam tulisan baru. Barangkali dalam post-post berikutnya aku juga akan menceritakan hal-hal yang belum sempat aku bagikan di tahun lalu. Semoga kalian tetap setia mendengarkan kisahku ya! Terima kasih banyak semuanya atas dukungan kalian hingga saat ini! 😊 /CS

2019: “Living in a Fast Lane” - Sekapur Sirih

Tak terasa, tahun lain telah terlewati lagi. Tahun 2018 yang tak terlewati begitu saja berkat melimpahnya pengalaman baru nan berkesan. Di tahun itu, aku mendapatkan pesta ulang tahun yang menyenangkan, akhirnya mendapatkan SIM dan bisa berkendara dengan motor, merasakan proses persiapan Studienreise hingga akhirnya bisa menikmati dua minggu musim panas di Jerman bersama teman-teman, melewatkan kesempatan menjadi volunteer Asian Games dan Para Games demi merasakan luar biasanya kisah KKN yang membuatku tersadar akan banyak hal serta PPL yang membuatku tahu rasanya mengajar di depan kelas. Lalu pengalaman dirawat di rumah sakit lagi, hingga kini yang masih berjalan; magang. Di tahun ini tentu banyak hal yang kita harapkan –entah itu besar atau kecil–, itu semua ada pada diri kita masing-masing, kalau untukku, tentu saja aku berharap semoga tugas akhirku dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu (dan masih ada harapan coming soon yang masih belum layak diceritakan sekarang). Di ...

GUgu & tiRU; Sebuah Panggilan

Image
Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Itulah simpulanku setelah menjalani (hampir) dua bulan praktek mengajar di sekolahan di daerah Magelang. Tapi sebelum kita mengkonklusikan lebih lanjut, mungkin ada baiknya kalian mengetahui mengapa aku bisa sampai di tahap ini. Kembali ke tiga tahun yang lalu, ketika aku memutuskan untuk menjadikan pendidikan bahasa jerman sebagai bidang kuliah yang akan kugeluti setelah aku menyelesaikan pendidikan menengah atasku (tak luput dengan kegalauan sebelum aku akhirnya memilih bertahan disini). Aku tahu pada akhirnya aku harus menggeluti magang mengajar; sebuah fakta yang menakutkan. Lucu sebenarnya, mengingat bahwa aku dibesarkan oleh dua orangtua yang juga merupakan tenaga pendidikan, yang satu guru dan yang lainnya dosen. Namun aku sendiri tidak tertarik sama sekali untuk terlibat mengajar dalam industri pendidikan formal. Dan hingga detik-detik terakhir sebelum praktek mengajar, aku masih tidak percaya bahwa aku harus mengajar di sekolah. ...

Dear 2016-A Little Throwback: Surat kecil untuk 2016

Dear 2016, Tak terasa, ini adalah hari terakhir aku bisa bersamamu... rasanya, baru kemarin 2015 pergi... Terimakasih atas moment yang kulewati bersamamu... suka dan duka, manis dan pahit, lucu dan menyebalkan... moment-moment itu membuat 366 hari bersamamu tampak begitu singkat, hari-hari datang dan pergi begitu saja tanpa beban. Tidak kupungkiri, banyak moment yang sulit kulalui, tapi aku percaya, kau hanya berusaha mengujiku dan melatihku untuk menjadi lebih kuat ke depannya. Karena aku beranjak dewasa... Di tahun ini, aku harus berpisah dengan beberapa dari teman-temanku, baik raga ataupun bersama jiwanya. Namun aku berterimakasih atas orang-orang baru yang kaupertemukan kepadaku... kau tahu? Mereka membuat perasaanku menjadi warna warni dan bagaikan naik komidi putar; kadang diatas, kadang dibawah. Mereka adalah insan yang membuatku jatuh cinta, manusia yang membuatku sakit hati, makhluk yang membuatku selalu tertawa, orang-orang yang menguji kesabaranku dan yang kusayangi....